Saturday, 19 April 2014

OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM OLEH GURU AGAMA ISLAM

OPTIMALISASI PENDIDIKAN  AGAMA ISLAM 
OLEH GURU AGAMA ISLAM 
 

     Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar 
memahami   (knowing),   terampil   melaksanakan   (doing),  dan   mengamalkan 
(being)  agama  Islam  melalui  kegiatan  pendidikan.  Tujuan  pendidikan  Agama 
Islam   di   sekolah   (bukan   di   madrasah)   ialah  murid   memahami,   terampil 
melaksanakan,  dan  melaksanakan  ajaran  Islam  dalam  kehidupan  sehari-hari 
sehingga  menjadi  orang  yang    beriman  dan  bertakwa  kepada  Allah  SWT 
berakhalak   mulia   dalam   kehidupan   pribadi,   berkeluarga,   bermasyarakat, 
berbangsa dan bernegara. 
     Optimalisasi  Pendidikan  Agama  Islam  (PAI)  tidak  berarti  penambahan 
jumlah  jam  pelajaran  di sekolah,  tetapi  melalui  optimalisasi  upaya  pendidikan 
agama Islam. Itu berupa optimalisasi mutu guru agama Islam dan optimalisasi 
sarana. 
     Karakteristik  utama  PAI  adalah  banyaknya  muatan  komponen  being,    di 
samping  sedikit  komponen  knowing  dan  doing.  Hal  ini  menuntut  perlakuan 
pendidikan yang banyak berbeda dari pendidikan bidang studi umum. 
     Pembelajaran untuk mencapai being yang tinggi  lebih mengarahkan pada 
usaha  pendidikan  agar  murid  melaksanakan  apa  yang  diketahuinya  itu  dalam 
kehidupan  sehari-hari.  Bagian  paling  penting  dalam  PAI  ialah  mendidik  murid 
agar  beragama;  memahami  agama  (knowing)  dan  terampil  melaksanakan 
ajaran agama (doing) hanya mengambil porsi sedikit saja. Dua yang terakhir ini 
memang mudah.  
     Berdasarkan   pengertian   itulah      pendidikan   agama   Islam   memerlukan  
pendekatan pendekatan naql, akal dan qalbu. Selain itu juga diperlukan sarana  
yang  memadai  sehingga  mendukung  terwujudnya  situasi  pembelajaran  yang 
sesuai  dengan  karakter    pendidikan  agama  Islam.  Sarana    ibadah,  seperti 
masjid/mushallah,  mushaf al-Quran,  tempat bersuci/tempat  wudlu  merupakan 
salah  satu  contoh  sarana  pendidikan  agama  Islam  yang  dapat  dipergunakan 
secara langsung oleh siswa untuk belajar agama Islam. 
     Peningkatan  mutu  guru  agama  Islam  diarahkan  agar  ia  mampu  mendidik 
muridnya  untuk  menguasai  tiga  tujuan  tadi.  Untuk  itu  perlu  ditingkatkan 
kemampuannya   dalam   penguasaan   materi   pelajaran   agama,   penguasaan 
metodologi pengajaran, dan peningkatan keberagamaannya sehingga ia pantas 
menjadi teladan muridnya. 
         Banyak orang memberikan penilaian terhadap keberhasilan guru agama 
Islam  (GAI).  Pada  umumnya,  mereka  menyatakan  bahwa  GAI  banyak  gagal 
dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. 
         Penelitian  menunjukkan  bahwa  pada  aspek  knowing  dan  doing  guru 
agama      tidak   gagal;     mereka     banyak     gagal    pada     pembinaan       aspek 
keberagamaan   (being).   Murid-muridnya   memahami   ajaran   agama   Islam, 
terampil    melaksanakan        ajaran    itu,  tetapi    mereka     sebagiannya       tidak 
melaksanakan  ajaran  Islam  tersebut  dalam  kehidupannya  sehari-hari.  Mereka 
memahami  hukum  dan  cara  shalat  lima,  terampil  melaksanakan  shalat  lima, 

                                                                                           7

----------------------- Page 8-----------------------

tetapi  sebagian  dari  murid  itu  tidak  melaksanakan  shalat  lima.  Mereka  tahu 
konsepjujur, mereka tahu cara melaksanakan jujur, tetapi sebagian dari mereka 
tetap    sering    tidak   jujur   dalam     kehidupannya       sehari-hari.    Jadi,   aspek 
keberagamaan itulah yang sangat penting untuk ditingkatkan.  
     Berikut   ini   adalah   uraian   singkat   tentang   metode   internalisasi   yang 
bertujuan untuk meningkatkan keberagamaan siswa sekolah.   
 
Metode Internalisasi 
          Sesuatu yang telah diketahui dapat saja sekedar diketahui, tempatnya di 
otak. Untuk mengetahui apakah murid sudah tahu, guru dapat memberikan soal 
ujian  atau  ulangan.  Jika  jawabannya  benar,  berarti  murid  sudah  tahu.  Murid 
mampu  bahkan  terampil  melaksanakan  yang  ia  ketahui  itu.  Tempatnya  di 
anggota badan. Nah, yang di otak dan yang di badan  itu boleh jadi menetap 
saja di situ; dua-duanya itu masih berada di luar kepribadian, masih berada di 
daerah ekstern, belum berada di daerah dalam kepribadian (intern). Karena itu 
pengetahuan  dan  keterampilan  harus  dimasukkan  ke  daerah  intern.  Proses 
memasukkan inilah yang disebut internalisasi. Untuk memahami konsep ini lebih 
dalam cobalah perhatikan uraian berikut ini. 
 
Tiga Tujuan Pembelajaran 
     Ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk pembelajaran apa saja.  
1.  Tahu, mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agar 
murid mengetahui sesuatu konsep. Murid diajar agar mengetahui menghitung 
luas  bidang.  Guru  mengajarkan  bahwa    cara  yang  paling  mudah  untuk 
mengetahui  luas  bidang  segi  empat  ialah  dengan  mengalikan  panjang  (p) 
dengan lebar (l). Guru menuliskan rumus: Luas = panjang x lebar (L=pxl). Guru 
mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang. Untuk 
mengetahui apakah murid telah memahami, guru sebaiknya memberikan soal-
soal latihan, baik dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Akhirnya guru yakin 
bahwa muridnya telah mengetahui  cara menentukan luas bidang segi empat. 
Selesai aspek knowing. 
2.    Terampil  melaksanakan  atau  mengerjakan  yang  ia  ketahui  itu  (doing). 
Dalam   hal   luas   bidang   seharusnya   murid   dibawa   ke   alam   nyata   yaitu 
menyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu murid (dapat 
juga    dibagi   menjadi     kelompok-kelompok)          mengukur      secara     nyata    dan 
menentukan luas bidang itu. Bila semua murid telah menghitung dengan cara 
yang  benar  dan  hasil  yang  benar  maka  yakinlah  guru  bahwa  murid  telah 
mampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumus 
itu tadi). Sampai di sini tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing. 
3.  Melaksanakan  yang  ia  ketahui  itu.  Konsep  itu  seharusnya  tidak  sekedar 
menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal contoh 
tadi setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telah 
diketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek being.      
    Dalam     pengajaran     yang     tidak   mengandung        nilai  buruk-baik     (seperti 
pengajaran Matematika itu) proses dari knowing ke doing, dari doing  ke being 
itu  akan  berjalan  secara  otomatis.  Artinya,  bila  murid  telah  mengetahui 

                                                                                             

konsepnya,       telah   terampil     melaksanakannya,        secara     otomatis    ia   akan 
melaksanakan  konsep itu  dalam  kehidupannya. Nanti  dalam  kehidupannya,  ia 
akan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas. Jika ia kurang 
baik  akhlaknya,  paling  jauh  ia  menipu  angka,  mungkin  dia  menipu  dalam 
mengukur        panjang      atau     lebar,    tetapi     rumus      itu   tidak     mungkin 
diselewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai 
(maksudnya:  konsepnya  bebas  nilai)  proses  pembelajaran  untuk  mencapai 
aspek  being  tidaklah  sulit.  Sangat  berbeda  bila  dibandingkan  dengan  konsep 
yang mengandung nilai. Perhatikan contoh berikut. 
 
Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat 
    Dengan memakai teori di atas kita dapat mengurai tiga tujuan pembelajaran 
shalat sebagai berikut: 
     1.  Tahu konsep shalat (knowing).  
     Dalam  hal  ini  murid  mengetahui  definisi  shalat,  syarat  dan  rukun  shalat, 
serta  hukum  shalat  dalam  ajaran  Islam.  Untuk  mencapai  tujuan  ini  guru  dan 
murid  dapat  memilih  metode  yang  telah  banyak  tersedia.  Metode  ceramah 
boleh digunakan, diskusi juga mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya. 
Untuk  mengetahui  apakah  murid  memang  telah  paham  konsep,  syarat  dan 
rukun  shalat,  guru  dapat  menyelenggarakan  ujian  berupa  ujian  harian  yang 
sering disebut ulangan harian, atau dengan cara lain. Yang diuji hanyalah aspek 
pengetahuannya  tentang  konsep,  syarat,  dan  rukun  shalat.  Jika  hasil  ujian 
semuanya bagus, berarti tujuan pembelajaran asepek knowing telah tercapai. 
     1.  Terampil melaksanakan shalat (doing).  
    Untuk  mencapai  tujuan  ini  metode  yang  baik  kita  gunakan  ialah  metode 
demonstrasi.   Guru   mendemonstrasikan   shalat   untuk   memperlihatkan   cara 
shalat.     Lantas     murid     satu     demi     satu     (imgat:     satu     demi     satu) 
mendemonstrasikan  shalat.  Guru  dapat  memutarkan  video  rekaman  shalat 
(lengkap  fi’liyah  dan  qauliyahnya)  dan  murid  menontonnya.  Tatkala  murid 
diminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian. 
Jadi,  di  sini  dilakukan  pengajaran  sekaligus  penilaian.  Bila  guru  telah  yakin 
seluruh (sekali lagi seluruh) murid telah mampu melaksanakan (artinya terampil 
dalam cara shalat), maka tujuan aspek doing telah tercapai. 
    2.  Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being).  
     Nah,  di  sinilah  bagian  yang  paling  rumit  itu.  Sebenarnya,  kekurangan 
pendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletak di sini, tidak pada aspek 
knowing dan doing. Bagian knowing dan doing telah beres dan telah mencapai 
hasil yang sangat bagus karena bagian ini memang mudah. Jadi, jika berbicara 
metode   pembelajaran   agama   Islam,   sebenarnya   untuk     tujuan   pertama 
(knowing) dan kedua (doing) itu sudah tidak ada lagi persoalan, anggap saja 
telah selesai, tidak lagi perlu diberikan pelatihan tentang itu. Itu sudah beres, 
katakanlah  baik  secara  keilmuan  maupun  dalam  pelaksanaan.  Bagaimana 
metode      untuk     meningkatkan        keberagamaan        siswa.     Ini   aspek     being. 
Inilahpersoalan kita. 
   Pengetahuan  masih  berada  di  otak,  di  kepala,  katakanlah  masih  berada  di 
pikiran, itu  masih berada di daerah luar  (extern); keterampilan  melaksanakan 
                                                                                           


juga   masih   berada   di   daerah   extern.   Upaya   memasukkan   pengetahuan 
(knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu ke dalam pribadi, itulah 
yang  kita  sebut  sebagai  upaya  internalisasi  atau  personalisasi.  Internalisasi 
karena memasukkan dari daerah extern ke intern, personalisasi karena upaya 
itu berupa usaha menjadikan pengetahuan dan ketermpilan itu menyatu dengan 
pribadi (person).  
    Metode  internalisasi itu  diaplikasikan  dalam  berbagai  teknik.  Ada dua  tenik 
utama. Pertama,  teknik pengajaran kognitif; untuk ini  Anda dapat menyusun 
program  pengajaran  kognitif  dengan  menggunakan   uraian   afektifnya Bloom 
dan kawan-kawan. Kedua teknik non pengajaran kognitif, seperti yang diuraikan 
berikut ini.  
 
1.  Peneladanan 
     Pendidik  meneladankan  kepribadian  muslim,  dalam  segala  aspeknya  baik 
pelaksanaan ibadah khas maupun yang ‘am. Yang meladankan itu tidak hanya 
guru, melainkan semua orang yang kontak dengan murid itu, antara lain guru 
(semua guru), kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan segenap aparat sekolah 
termasuk  pesuruh,  penjaga  sekolah,  penjaga  sepeda,  dan  orang-orang  yang 
berjualan di sekitar sekolah. Terpenting ialah peneladanan oleh orang tua murid 
di  rumah.  Mereka  itu  seharusnya  meneladankan  tidak  hanya  pengamalan 
ibadah khas, tetapi juga ibadah yang umum seperti meneladankan kebersihan, 
sifat  sabar,  kerajinan,  transparansi,  musyawarah,  jujur,  kerja  keras,  tepat 
waktu,  tidak  berkata  jorok,  mengucapkan  salam,  seyum,  dan  seterusnya 
mencakup  seluruh  gerak  gerik  dalam  kehidupan  sehari-hari  yang  telah  diatur 
oleh Islam.  
    Mengapa  peneladanan  sangat  efektif  untuk  internalisasi?  Karena  murid 
secara  psikologis  senang  meniru,  kedua  karena  sanksi-sanksi  sosial,  yaitu 
seseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang-orang di sekitarnya.  
    Dalam  Islam    bahkan  peneladanan  ini    sangat  diistimewakan  dengan 
menyebut bahwa nabi itu teladan yang baik (uswah hasanah). Nabi dan Tuhan 
menyatakan teladanilah nabi. Dalam perintah yang ekstrem disebutkan barang 
siapa yang menginginkan berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia mengikuti 
Allah dan rasulNya.   
    Jika  di  atas  dikatakan  pembelajaran  agama  Islam  selama  ini  gagal  pada 
bagian keberagaman,  sangat  mungkin guru  agama dan para pendidik lainnya 
kuarang memperhatikan teori ini. 
 
2.  Pembiasaan 
     Kadang-kadang kepala sekolah merasa terlalu banyak waktu akan terbuang 
bila   pembiasaan   hidup   beragama   terlalu   maksimal   di   sekolahnya.   Ada 
pembiasaan  shalat  berjama’ah  zuhur,  dikatakan  merepotkan,  memboroskan 
waktu.   Ada   pembiasaan   melaksanakan   shalat   jum’at   di   sekolah,   disebut 
memboroskan waktu dan merepotkan.  
Satu kelas menengok kawannya yang sakit, digunakan waktu 60 menit, itu akan 
merugikan  jam  pelajaran  efektif,  urunan  untuk  membantu    teman  yang  sakit 
disebut pemborosan, dan sebagainya.  

                                                                                            

    Pandangan  ini  sebenarnya  sangat  keliru.  Inti  pendidikan  yang  sebenarnya 
ialah  pendidikan  akhlak  yang  baik.  Akhlak  yang  baik  itu  dicapai  dengan 
keberagamaan yang baik, keberagamaan yang baik itu dicapai dengan –antara 
lain-  pembiasaan.  Jarang  kepala  sekolah  menyadari  bahwa  bila  akhlak  murid 
baik, maka pembelajaran lainnya akan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah 
dengan hasil yang lebih baik. Konsep ini sekalipun sangat jelas, pada umumnya 
belum juga disadari oleh para guru. 
         
3.  Shalat sunnat mutlak sebagai pengganti ceramah Israk  Mikraj. 
Tatkala tiba hari peringatan isra mikraj, biasanya ada ceramah. Isi ceramahnya 
sudah  ditebak  murid-murid.  Karena  itu  sesekali  tidak  perlu  ada  ceramah. 
Diumumkan pada murid, besok siap wudluk dari rumah, bawa pakaian slahat, 
kita  akan  mengadakan  peringatan  israk  mikraj.  Tiba  waktunya,  pada  jam 
pelajaran  pertama,  semua  murid  disuruh  masuk  musholla  atau  aula,  lantas 
melakukan  shalat  sunat  sebanyak  –misalnya-  20  rakaat,  lakukan  dua-dua, 
namanya shalat sunat mutlak. Itu akan menggunakan                     aktu sekitar 30 menit 
termasuk   persiapan.   Isra   mikraj   itu   intinya   ialah   shalat.   Setelah   selesai 
kembalilah  ke  kelas,  jam  pelajaran  efektif  hanya  terpakai  sekitar  40  menit 
secara keseluruhan. 
 
4.   Membaca shalawat sebagai pengganti ceramah Maulud Nabi.  
     Tatkala  peringatan  maulud  nabi,  sesekali  tidak  perlu  ada  ceramah,  toh 
ceramahnya  rata-rata  sudah  dapat  ditebak.  Guru  mengumumkan  pada  murid 
bahwa besok kita mengadakan peringatan maulud nabi. Besoknya murid-murid 
semua  dikumpulkan  di  aula  atau  musholla  (bila  dapat  menampung).  Guru 
mengomando,  mari  kita  membacakan  shalawat  untuk  nabi,  selama  20  menit. 
Guru agama, atau guru lain, atau salah seorang murid memimpin pembacaan 
shalawat.  Bila  telah  selesai,  kembalilah  ke  kelas. Jam  pelajaran  efektif  hanya 
terpakai kurang dari 30 menit. 
 
5.  Berbagai perlombaan  
     Perlombaan-perlombaan  banyak  yang  dapat  dimanfaatkan  sebagai  teknik 
internalisasi yang dimaksud. Perlombaan mengarang yang isinya diarahkan ke 
nilai-nilai  keberagamaan,  perlombaan  berpidato  atau  khutbah,  cerdas  cermat, 
dan sebangsanya merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan. 
 
6.  Berbagai doa   
     Do’a akan memulai pelajaran boleh saja sekali-sekali membaca sesuatu ayat 
(atau  beberapa  ayat)  al-Qur`an.  Do’a  selesai  belajar  sebaiknya  jangan  satu 
macam. Boleh  diganti dengan bacaan  semacam wirid.  Misalnya,  guru  berkata 
anak-anak  kita  telah  selesai  belajar,  kita  akan  pulang  kerumah,  mari  kita 
membaca  ayat   kursi  3  kali,   mulai.   Lantas  pulang  dan  guru  tidak  usah 
mengucapkan apa-apa lagi. 
 
7.  Menyanyikan lagu-lagu keagamaan 
    Ini baik sekali bagi murid-murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.      
8.  Membaca Al-Qur`an  
    Sekira 10 menit sebelum jam pelajaran pertama dianjurkan anak-anak itu 
membaca al-Qur`an yang dibawanya dari rumah. 
  
9.  Selalu thahur 
    Maksudnya, para murid itu selalu dalam keadaan wudluk, wudluknya tidak 
pernah  batal.  Guru  dapat  menganjurkan  murid-muridnya  agar  selalu  thahur; 
tentu saja guru meneladankan. 
 
10.   Puasa sunnat 
     Murid-murid sangat dianjurkan melaksanakan puasa sunnat, misalnya puasa 
Senen Kamis, Senan saja atau Kamis saja, sebaiknya guru meneladankan. 
     Pendidikan menuju keberagamaan yang tinggi harus didukung oleh semua 
pihak,  termasuk  orang  tua  di  rumah.  Dukungan  itu  sebenarnya  merupakan 
bagian dari penerapan metode internalisasi tadi.  
     Upaya  menemukan teknik-teknik itu harus ada pada guru-guru, spesifikasi 
sekolah  dan  tempat  pendidikan  masing-masing  berbeda,  teknik-tenik  tertentu 
tepat  pada  suatu   tempat  belum   tentu  cocok  digunakan  di  tempat  lain. 
Kebiasaan  di  pesantren  akan  merupakan  sumber  belajar  guru  dalam  rangka 
menemukan  teknik  lebih  banyak  dan  lebih  variatif.  Memasukkan  konsep  ke 
dalam susunan berbentuk karangan indah, nyanyian, merupakan kemungkinan 
teknik  internalisasi  yang  cukup  efektif  terutama  pada  murid-murid  tingkat 
taman kanak-kanak dan sedolah dasar sembilan tahun. 
     Apa  yang  dikemukakan  di  atas,  yaitu  metode  internalisasi  dan  teknik-
tekniknya,  masih  dalam  bentuk  gagasan.  Nanti  setelah  sering  dicobakan  dan 
ternyata  hasilnya  baik,  maka  gagasan  tersebut  menjadi  teori  ilmu  (sain) 
pendidikan;   sementara   ini   gagasan   itu   masih   berada   di   daerah   filsafat 
pendidikan. 
     
     
INTEGRASI               AJARAN             AGAMA            ISLAM           KE        DALAM 
PEMBELAJARAN 
 
     Penyelenggaraan  pendidikan  keimanan  dan  ketak              aan  (imtak)  itu  adalah 
tugas sekolah, bukan tugas guru agama saja. Tujuan pendidikan imtak itu tidak 
akan  tercapai  bila  hanya  dilakukan  oleh  guru  agama  saja.  Karena  itu  kepala 
sekolah,  semua  guru,  semua  karyawan,  dan  orang  tua  murid  harus  ikut 
menyelenggarakan pendidikan imtak itu.  
     Bab  ini  membicarakan  sebagian  yang  harus  dilakukan  oleh  guru  umum 
dalam  rangka  membantu  terselenggaranya  pendidikan  imtak  agar  pendidikan 
imtak itu lebih maksimal hasilnya. 
     Yang  dimaksud  dengan  guru  umum  ialah  guru  yang  mengajarkan  mata 
pelajaran umum, seperti guru Matematika, guru Biologi, guru Olah Raga, dan 
lain-lain, pokoknya guru selain guru agama. (Penyebutan guru umum ini sudah 

tepat; itu bukan pertanda kita menganut dikotomi. Umum itu lawannya khusus, 
bukan agama. Sering orang mengatakan umum-agama sebagai tanda penganut 
dikotomi).   
     Bagaimana cara guru umum melaksanakan pendidikan imtak, sementara ia 
bukan guru agama? Caranya ialah dengan mengintegrasikan ajaran agama ke 
dalam pembelajarannya.  
     Pengintegrasian itu dapat dilakukan pada: 
            a.  Pengintegrasian materi pelajaran, 
            b.  Pengintegrasian proses 
            c.  Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar 
            d.  Pengintegrasian dalam memilih media pengajaran. 
     Pengintegrasian  materi,  maksudnya  ialah  mengintegrasikan  konsep  atau 
ajaran agama ke dalam materi (teori, konsep) pengetahuan umum yang sedang 
diajarkan. Ini terbagi menjadi beberapa kemungkinan: 
a.  Pengintegrasian  filosofis,  bila  tujuan  fungsional  mata  pelajaran  (umum) 
    sama    dengan  tujuan  fungsional  mata  pelajaran  agama.  Misalnya:  Islam 
    mengajarkan   perlunya   hidup   sehat,   sementara   Ilmu   Kesehatan   juga 
    mengajarkan  perlunya  hidup  sehat.  Matematika  mengajarkan  teliti,  Islam 
    juga mengajarkan teliti. 
b.  Pengintegrasian      karena     konsep     agama     berlawanan       dengan     konsep 
    pengetahuan   umum.   Misalnya   (jika   benar)   guru   Biologi   mengajarkan 
    manusia   berasal   dari   monyet   (mungkin   mengacu   pada   teori   Darwin) 
    sementara  guru  agama  Islam  mengajarlkan  bahwa  manusia  berasal  dari 
    Adam,  dan  Adam  dari  tanah.  Yang  berlawanan  ini  harus  diselesaikan: 
    mungkin  guru  agama  Islam  (GAI)  yang  salah  mungkin  juga  guru  Biologi 
    yang  keliru.  Yang  penting,  konsep  yang  berlawanan  itu  jangan  diajarkan 
    seperti  itu.  Misalnya,  GAI  mengajarkan  bahwa  bunga  bank,  betapapun 
    kecilnya, haram; sementara guru Ekonomi mengajarkan bahwa bunga bank 
    boleh.  Ini  pun  harus  diselesaikan.  Murid  tidak  boleh  diajari  konsep  yang 
    berlawanan. 
c.  Pengintegrasian  dapat  dilakukan  jika  konsep  agama  saling  mendukung 
    dengan   konsep   pengetahuan   (umum).   Misalnya   Guru   Ilmu   Kesehatan 
    sedang  mengajarkan  konsep  bahwa  kebanyakan  penyakit  berasal  dari 
    makanan; lantas ia mengajarkan bahwa diet itu perlu untuk kesehatan. guru 
    Ilmu Kesehatan itu dapat meneruskan bahwa puasa adalah diet yang sangat 
    baik.  Cukup  begitu  saja,  tidak  usah  menuliskan  dalil  atau  uraian  lebih 
    banyak.  Misalnya  lainnya.  Guru  Astronomi  sedang  menerangkan  benda 
    angkasa,  bahwa  benda  angkasa  itu  beredar  pada  garis  edarnya  masing-
    masing. Lantas ia mengatakan bahwa ada ayat al-Qur`an yang menjelaskan 
    bahwa  memang  benda-benda  di  langit  itu  beredar  pada  garis  edarnya 
    masing-masing  karena  diatur  Allah  demikian.  Cukup  sebegitu,  tidak  usah 
    pakai dalil atau uraian lain.  
 
     Pengintegrasian     perlu    dilakukan     juga   dalam     proses     pembelajaran. 
Konsepnya: jangan ada proses pembelajaran yang berlawanan dengan ajaran 
agama  Islam.  Misalnya:  guru  renang  laki-laki  mengajari  murid  perempuan 

berenang.  Penyelesaiannya  ialah  mengganti  guru  renang  lelaki  dengan  guru 
renang  perempuan.  Dengan  demikian  proses  berjalan  sesuai  dengan  ajaran 
Islam. Demikian juga pada proses yang lain seperti pengajaran menari dan lain 
sebagainya. 
 
     Pengintegrasian perlu juga dilakukan dalam memilih bahan ajar. Misalnya 
guru  Bahasa  Indonesia  dapat  memilih  bahan  ajar  yang  memuat  ajaran  Islam 
untuk  dibahas,  misalnya  dalam  memilih  sanjak;  juga  dalam  memilih  bahan 
bacaan  lainnya.  Di  sini,  guru  Bahasa  Indonesia  itu  memang  berniat  hendak 
meningkatkan imtak siswa melalui pengajaran Bahasa Indonesia.   
    Pengintegrasian  juga  dapat  dilakukan  dalam  memilih  media.  Misalnya, 
tatkala  guru  Matematika  memilih  sosok,  ia  menggunakan  sosok  mesjid  untuk 
mengganti  rumah.  Ia  mengajarkan  bahwa  satu  mesjid  ditambah  dua  mesjid 
sama dengan tiga mesjid. Tentu itu hanya dilakukan sekali-sekali saja. 
     Pengintegrasian itu dilakukan secara selintas, seperti tidak disengaja, tidak 
formal,  tidak  ditulis  dalam  lesson  plan  (persiapan  mengajar),  tidak  dievaluasi 
baik  pada  post-test  mapun  pada  ulangan  umum,  tidak  mengurangi  waktu 
efektif pengajaran umum.  
     Usaha pengintegrasian materi ini, di samping untuk membantu tercapainya 
tujuan  PAI  juga  berdaya  dalam  menghilangkan    pandangan    dikotomis  yang 
menganggap  bahwa  pengetahuan  (pengetahuan  ilmu,  pengetahuan  filsafat, 
pengetahuan  mistik)    merupakan  pengetahuan    bebas  nilai.  Demikian  pula 
agama   dipandang   sebagai   sesuatu   yang   tidak   memiliki   kaitan   dengan 
pengetahuan  itu.  Keduanya  tidak  dapat  dipertemukan,  bahkan  agama  dapat 
dianggap penghambat perkembangan  pengetahuan. 
     Pandangan tersebut merupakan akibat dari cara  pandang yang keliru, baik 
terhadap  agama  maupun  terhadap  pengetahuan  umum.  Jika  integrasi  agama 
dengan  pengetahuan  umum  berhasil  dengan  baik,  maka  salah  satu  hasilnya 
ialah agama itu akan memandu pengetahuan umum. 
 
 
INTEGRASI AJARAN ISLAM KE DALAM 
 KEGIATAN EKSTRA KURIKULER 
          
     Melalui  kegiatan  ekstrakurikuler  peningkatan  imtak  siswa  dapat  dilakukan 
sekolah   dengan       memfasilitasi     siswa    mengembangkan          berbagai     kegiatan 
ekstrakurikuler   baik   yang   berkaitan   dengan   mata   pelajaran   umum   yang 
bernuansa keagamaan maupun kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. 
     Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang  diselenggarakan di luar jam 
pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan 
kebutuhan  sekolah.  Kegiatan  ekstrakurikuler  berupa  kegiatan  pengayaan  dan 
perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler. Contoh-contoh 
kegiatan  ekstra  kurikuler  antara  lain  ialah  kepramukaan,  usaha  kesehatan 
sekolah, olah raga, palang merah, kesenian. 

        Berbagai    kegiatan     ekstra   kurikuler    itu   dapat    dimanfaatkan       untuk 
meningkatkan keberagamaan siswa.    Sebagai contoh guru mata pelajaran IPS 
dapat  mengembangkan  pokok  bahasan  yang  berkaitan  dengan  kehidupan 
sesama      manusia.     Dalam      pokok    bahasan      tersebut     diuraikan    mengenai 
tanggungjawab terhadap orang miskin. Pokok bahasan ini dapat dikembangkan 
menjadi suatu kegiatan ekstrakurikuler berupa pengumpulan dana, atau bahan 
makanan,  atau  pakaian  layak  pakai  termasuk  pakaian seragam  sekolah  layak 
pakai untuk disumbangkan kepada orang yang memerlukan. 
     Penyalurannya biasa melalui yayasan, panti, atau diberikan secara langsung. 
Dalam hal jenis pengumpulan dana, dana tersebut juga dapat diberikan dalam 
bentuk beasiswa kepada teman-teman sekolahnya. 
 
Ekstrakurikuler yang Mendukung Peningkatan Imta   
    1)  Tidak     boleh    ada    kegiatan     ekstrakurikuler      yang     tidak   memberi 
        kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan kewajiban agamanya. 
    2)  Membuat  berbagai  kegiatan  ekstrakurikuler  yang  bernuansa  kondusif 
        dalam mendukung pengamalan nilai-nilai imtaq. 
     Kegiatan  lomba  dalam  upaya  memantapkan  hidup  bersih  dapat  dilakukan 
melalui  kegiatan  ekstrakurikuler,  misalnya  saja  masing-masing  kelas  diberi 
tugas  merawat  kebersihan  kelas  dan  merawat  taman.  Kegiatan  ini  dapat 
berlanjut menjadi kegiatan lomba secara sederhana sebagai upaya memotivasi 
para siswa. 
     Banyak  hal  mengenai  ajaran  Agama  Islam  yang  dapat  diaktualisasikan 
kedalam  kegiatan  ekstrakurikuler  yang  dapat  dilakukan  setiap  saat  sebagai 
upaya pembinaan secara ajeg. Ajaran yang mengajak hidup hemat, tidak boros 
sebagai   mata   pelajaran   Pendidikan   Agama   Islam,   serta   pokok   bahasan 
membahas tentang kebutuhan manusia yang tak terbatas berhadapab dengan 
sarana  atau  sumber  yang  terbatas  (kelangkaan)  dan  adanya  pengorbanan 
ekonomis   untuk   memperolehnya   sebagai   poko   bahasan   mata   pelajaran 
Ekonomi, dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan menabung.  
     Kegiatan    ekstrakurikuler      dapat    dilaksanakan      dalam     bentuk     kegiatan 
keseharian yag terintegrasi dengan tata kehidupan sekolah. Misalnya kelompok 
kebersihan kelas, kelompok pelestarian alam atau taman sekolah atau kelompok 
diskusi. 
 
 
PENCIPTAAN  SUASANA  SEKOLAH  YANG  KONDUSIF  BAGI 
PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN SISW 
 
     Suasana  sekolah  diduga  sangat  berpengaruh  terhadap  berkembangnya 
keberagamaan siswa. Suasana sekolah yang kondusif itu mengusahakan hal-hal 
berikut. 
 
1) Keamanan 

     Keamanan  merupakan  modal  pokok  dalam  menciptakan  suasana  yang 
harmonis dan  menyenangkan di  sekolah. Keamanan  di sini adalah rasa  aman 
adan  tentram  serta  bebas  dari  rasa  takut,  baik  lahir  maupun  batin,  yang 
dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Suasana sekolah yang aman dan tentram 
dapat  memacu  warga  sekolah  untuk  melakukan  aktivitas  dengan  baik,  tanpa 
diikuti rasa waswas yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar di kelas. 
Tanpa     rasa   aman,     maka     semua      kegiatan    pendidikan     termasuk      upaya 
peningkatan iman dan taqwa siswa tidak akan berjalan dengan baik. 
     Rasa   aman   dapat   diciptakan   melalui   penataan   kondisi   sekolah   yang 
sedemikian  rupa,  sehingga  ancaman  dan  gangguan  baik-baik  fisik  maupun 
psikologis dapat diatasi dengan baik. Sekolah harus proaktif mengantisipasi dan 
mengatasi segala bentuk gangguan baik yang timbul dari dalam maupun luar 
lingkungan sekolah. Sekolah juga haus memberikan rasa aman kepada semua 
warga sekolah untuk berpikir, berpedapat, dan melakukan hal-hal yang bersifat 
konstruktif dan  produktif. Dengan demikian fungsi  sekolah selain memberikan 
jaminan keamanan atas kebebasan menyatakan pendapat dan bertindak sesuai 
dengan tuntutan norma. 
 
2) Kebersihan 
     Kebersihan  adalah  sebagian  dari  iman.  Suasana  bersih,  sehat  dan  segar 
yang terasa dan tampak pada seluruh ruang kelas, ruang kerja, kamar mandi, 
halaman, dan fasilitas sekolah lainnya merupakan kodisi yang harus diciptakan 
sekolah untuk mendukung iklim sekolah yang kondusif. Selain perintah agama, 
kebersihan   merupakan   bagian   dari   pendidikan   kesehatan   karena   bersih 
merupakan  cermin  keterauran  dalam  kehidupan.  Karena  itu,  kebiasaan  hidup 
bersih   hendaknya   disosialisasikan   kepada   peserta   didik   melalui   kegiatan-
kegiatan nyata di sekolah. 
     Hidup  bersih  tidak  hanya  terbatas  pada  aspek  fisik  belaka,  namun  juga 
menyangkut  aspek  psikis.  Kebersihan  batiniah  merupakan  aspek  yang  harus 
mendapat       perhatian     yang    seksama      dari   sekolah.     Kebersihan      batiniah 
menyangkut  berbagai  perilaku  psikis  yang  diwujudkan  dalam  sikap  jujur, 
pemaaf,  ikhlas,  tidak  dengki,  tidak  dendam,  dan  semacamnya.  Dengan  kata 
lain,  kebersihan  batin  merupakan  upaya  membersihkan  diri dari  penyakit hati 
yang  dapat  merusak  keimanan  dan  ketaqwaan  terhadap  Tuhan  serta  dapat 
merusak  tali  silaturahim  antar  sesama  muslim  dan  umat  manusia  apada 
umumnya. 
 
3) Ketertiban 
     Ketertiban  adalah  suatu  kondisi  yang  mencerminkan  suatu  keharmonisan 
dan  keteraturan  dalam  pergaulan  antarwarga  sekolah,  dalm  penggunaan  dan 
pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dalam penggunaan waktu belaajr 
mengajar, dan dalam hubungan dengan masyarakat sekitar. Ketertiban ini tidak 
tercipta  dengan  sendirinya  melainkan  diupayakan  oelh  setiap  warga  sekolah 
untuk     mewujudkannya        melalui    lingkungan      yang    terkecil,   seperti   kelas, 
perpustakaan,  ruang  kerja,  dan  kamar  mandi/toilet  kemudian  meluas  ke 
lingkungan dalam sekolah dan lingkungan luar sekolah. 

     Untuk   mewujudkan   kondisi  tertib  ini,  sekolah  hendaknya  menetapkan 
seperangkat tata tertib sekolah yang meliputi tata tertib siswa, tata tertib guru 
dan  karyawan.  Di  damping  itu,  sekolah  hendaknya  menyediakan  sarana  dan 
prasarana  sekolah  untuk  menunjang  terlaksananya  ketertiban  sekolah  seperti 
tempat   parkir,   tempat   sampah,   kantin/tempat   makan   dan   semacamnya. 
Pengawasan pelaksanaan ketertiban juga diperlukan agar semua warga sekolah 
dapat mentaati semua tata tertib sekolah dan menggunakan semua perangkat 
sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan fungsi masing-masing. 
 
4)  Keteladanan 
     Nabi   Muhammad   SAW   berhasil   menanamkan   iman   amat   kuat   pada 
muridnya. Salah satu cara yang beliau tempuh dalam menanamkan iman ialah 
dengan   meneladankan;   beliau   jauh  lebih  banyak  meneladankan   daripada 
mengajarkan secara lisan. 
     Keteladanan  merupakan  salah  satu  kunci  utama  dalam  penanaman  dan 
peningkatan  iman,  sebab  dengan  menampilkan  berbagai  bentuk  aplikasi  dari 
keimanan  dan  ketakwaan,  orang  yang  melihatnya  akan  langsung  mampu 
meniru perbuatan baik tersebut, tanpa sulit memahaminya. 
     Keteladanan  merupakan  salah  satu  metoda  dalam  penanaman  nilai-nilai 
agama  yang  paling  efektif.  Menyampaikan  ajaran  Islam  seharusnya  lebih 
banyak  melalui  peneladanan,  sehingga  nilai-nilai  kebenaran  itu  tidak  hanya 
eksis pada tataran kognitif saja, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan 
sehari-hari. 
     Para guru yang memiliki kewajiban menyampaikan nilai-nilai keimanan dan 
ketakwaan, tidak merasa cukup dengan hanya mengajarkannya di kelas melalui 
pembelajaran, akan tetapi guru merasa wajib menyampaikan perannya sebagai 
sosok yang mampu ditaati dan ditiru siswa. Maka metoda peneladanan ini akan 
semakin  penting  perannya  dalam  menciptakan  situasi  yang  kondusif  untuk 
menumbuhkembangkan  keimanan  dan  ketakwaan  siswa.  Metode  ini  amat 
penting diketahui dan digunakan juga oleh orang tua di rumah. 
 
5) Keterbukaan 
     Sifat   transparansi   dari   sistem   manajemen   sekolah   dan   pada   setiap 
permasalahan,  merupakan  sifat  keterbukaan  yang  harus  ada  pada  sistem 
persekolahan. Dengan adanya keterbukaan dari setiap insn sekolah, diharapkan 
tidak terjadi adanya saling curiga, berburuk sangka, beriri hati, fitnah dan sifat-
sifat buruk lainnya yang cenderung mengaiaya dan merusak hak orang lain. 
     Sistem  manajemen  sekolah  yang  transparan  terutama  dalam  manajemen 
keuangan  sangatlah  penting,  sebab  seringkali  masalah  keuangan  ini  jika 
dikelola  dengan  tidak  transparan  menyebabkan masalah-masalah  yang serius, 
yang  berakibat  tidak  harmonisnya  hubungan  antar  insan  sekolah.  Keadaan 
harmonis ini akan menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya 
keimanan dan ketaqwaan insan sekolah, terutama sis                a. 
        Untuk menciptakan suasana seperti itu sebaiknya diperhatikan hal-hal berikut ini. 
 
1) Peraturan Sekolah 

     Peraturan yang dikeluarkan sekolah merupakan aspek pertama yang harus 
ada  dalam  upaya  pengembangan  suasana  sekolah  yang  kondusif.  Salah  satu 
dari  peraturan  ini  adalah  tata  tertib  sekolah  yang  memuat  hak,  kewajiban, 
sanksi, dan penghargaan bagi siswa, kepala sekolah, guru dan karyawan. Tata 
tertib sekolah ini hendakmnya mencerminkan nilai-nilai ketakwaan. 
     Beberapa  hal  yang  perlu  dipertimbangkan  untuk  dimasukan  dalam  tata 
tertib sekolah dalam rangka peningkatan imtaq siswa antara lain: 
a)  Kewajiban mengucapkan salam antar sesama teman, dengan kepala sekolah 
    dan guru, serta dengan karyawan sekolah apabila baru bertemu pada pagi 
    hari atau mau berpisah pada siang/sore hari. 
b)  Berdoa  sebelum  guru  akan  memulai  mengajar  di  pagi  hari  dan  ketika 
    pelajaran akan diakhiri di siang/sore hari. 
c)  Kewajiban     untuk    melakukan      ibadah     bersama,     seperti   shalat   dzuhur 
    berjamaah untuk melatih disiplin beribadah dan jiwa kebersamaan. 
d)  Kewajiban  untuk  mengikuti  kegiatan  keagamaan  yang  dilaksanakan  oleh 
    sekolah,  seperti  peringatan  hari-hari  besar  islam,  pesantren  ramadhan, 
    pesantren kilat semacamnya. 
e)  Kewajiban  untuk  ikut  menciptakan  suasana  aman,  bersih,  sehat,  indah, 
    tertib, kekeluargaan, dan rindang di lingkungan sekolah dan sekitarnya. 
f)  Siswa   berpakaian   sesuai   dengan   nilai-nilai   dan   ajaran   Islam,   seperti 
    memakai kerudung bagi siswa putri. 
     Peraturan  tersebut  hendaknya  dibuat  dan  dibahas  bersama-sama  dengan 
melibatkan unsur kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan Komite Sekolah 
sehingga berbagai nilai, norma, dan aturan yang telah dibuat dapat disepakati 
dan dilaksanakan bersama secara konsekuen. 
 
2) Tenaga Pembina 
     Untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi peningkatan imtaq 
siswa  diperlukan  tenaga  pembina  yang  secara  terus  menerus  melakukan 
bimbingan, arahan, dan pengawasan, terhadap segenap aspek yang berkaitan 
dengan  program  imtaq  di  sekolah.  Kegiatan  pembinaan  ini  harus  melibatkan 
segenap   potensi   sumberdaya   manusia   yang   tersedia   disekolah,   sehingga 
gerakan pembinaan ini berjalan secara serentak dan terintegrasi. 
     Setidaknya  ada  tiga  komponen  tenaga  pembina  suasana  sekolah  yang 
kondusif bagi peningkatan imtak siswa, yaitu kepala sekolah, guru agama, dan 
guru umum.  
a)  Kepala Sekolah 
     Sebagai  pemimpin  pendidikan,  kepala  sekolah  mempunyai  peran  yang 
sangat  sentral dalam  upaya penciptaan suasana sekolah  yang  memungkinkan 
dapat  mendorong  peningkatan  imtak  siswa.  Peran  ini  dapat  dilakukan  kepala 
sekolah  sebagai  manajer  pendidikan  dalam  mengelola  segenap  sumberdaya 
pendidikan (sumberdaya manusia, dana, dan sarana parasarana) yang tersedia 
di sekolah.  
     Dalam  upaya  ini,  kepala  sekolah  harus  mampu  mengatur tenaga  pembina 
utama  kegiatan pembinaan imtaq siswa, menyediakan sarana dan parasarana 
yang diperlukan, menggalang dan menyediakan berbagai dana yang diperlukan 
       
untuk  membiayai  kegiatan-kegiatan  yang  berkaitan  dengan  pembinaan imtaq. 
Berbagai  upaya  ini  hendaknya  diprogramkan  secara  integral  dengan  program 
kegiatan sekolah yang yang disusun setiap tahun dengan melibatkan berbagai 
pihak termasuk orang tua murid. 
b)  Guru  Agama Islam 
     Guru  Agama Islam (GAI) merupakan tenaga inti yang bertanggung jawab 
langsung  terhadap  pembinaan  watak,  kepribadian,  keimanan,  dan  ketaqwaan 
siswa di sekolah.  
c. Guru Umum Tenaga Kependidikan Lainnya 
 
3) Sarana Prasana 
     Faktor  dominan,  disamping  ketenagaan  dan  peraturan  sekolah,  dalam 
menciptakan  suasana  sekolah  yang  kondusip  bagi  peningkatan  imtak  siswa 
adalah  ketersediaan  sarana  dan  parasarana  sekolah  yang  dapat  menunjang 
kegiatan   pembinaan.   Sarana   dan   prasarana   pendidikan   yang   baik   dan 
penataannya yang teratur akan memberikan nuansa yang menyenangkan bagi 
segenap warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan masing-masing termasuk 
dalam pembinaan keagamaan siswa. 
     Beberapa sarana dan prasarana yang diperlukan  untuk menciptakan suana 
sekolah yang kondusif bagi pembinaan siswa antara lain: 
a)  Lingkungan fisik dan psikologis sekolah yang aman, bersih dan sehat, yang 
    dilengkapi  dengan  pemagaran  sekeliling  sekolah, tanaman  dan  pepohonan 
    yang  rindang  kebun  dan  tanaman  bunga  yang  tertata  rapi,  lingkungan 
    sekolah yang jauh dari kebisingan suara dan polusi udara, serta lingkungan 
    sekolah   yang   bebas   dari   jaringan   dan   pusat   peredaran   obat-obatan 
    psikotropika dan obat terlarang lainnya. 
b)  Tempat ibadah berupa mushallah atau masjid yang dapat menampung siswa 
    untuk  melaksanakan  shalat  wajib  berjamaah,  khususnya  shalat  duhur  dan 
    shalat  Juma’at.  Bilamana  sekolah  belum  mempunyai  mushalla  atau  masjid 
    ruang-ruang sekolah lainnya yang volume penggunaannya relatif kecil atau 
    ruang yang tidak dipakai dapat dijadikan sarana ibadah siswa. Mushalla atau 
    ruang ibadah yang kecil dapat digunakan secara bergantian antar kelompok 
    siswa untuk melakukan shalat berjamaah dengan bimbingan GPAI atau guru 
    lainnya yang ditunjuk. 
c)  Tempat  pengambilan  air  wudlu  bagi  siswa  yang  akan  menjalankan  shalat. 
    Tempat  ini  dapat  menggunakan  kamar  kecil  yang  ada  atau  kran  air  yang 
    dibuatkan secara khusus di dekat mushalla atau ruang ibadah. Kran air yang 
    dibuat  khusus  ini  lebih  baik  dari  pada  kamar  kecil  karena  lebih  terjamin 
    kebersihannya dan siswa dapat mengambil air wudlu dari air yang mengalir. 
d)  Aula  atau  ruang  besar  yang  dapat  digunakan  untuk  kegiaran  ceramah 
    agama, peringatan hari-hari besar Islam atau diskusi tentang masalah imtaq 
    dan  iptek.  Biasanya  di  sekolah-sekolah  besar  ruang  pertemuan  dengan 
    kapasitas  besar  sudah  tersedia,  sehingg  ruang  tersebut  dapat  digunakan 
    secara bergantian dengan acara-acara lainnya. 
e)  Kitab   suci   al-Quran     dengan     terjemahnya,      kitab-kitab   hadits   dengan 
    terjemahnya,  buku-buku  ibadah, fiqh,  akhlaq,  tarikh islam,  dan  buku-buku 

    islam lainnya. Kitab dan buku tentang keislaman ini sebaiknya diletakkan di 
    mushalla  atau  perpustakaan  yang  setiap  saat  dapat  dipinjam  atau  dibaca 
    oleh siswa. 
f)  Hiasan  dinding,  ornamen,  dan  kaligrafi  yang  bernuansa  Islam  yang  dapat 
    dipajang pada ruang-ruang kelas, ruang guru dan tata usaha, perpustakaan, 
    serta ruang lainnya yang memungkinkan. 
g)  Kamar   kecil   tempat   pembuangan   air   kecil   dan   besar   yang   terjaga 
    kebersihannya yang dibagi antara siswa laki-laki dan perempuan. 
h)  Penyediaan  air  bersih  dan  pembuangan  air  kotoran  merupakan  syarat 
    terjaganya  fasilitas  umum  ini.   Walaupun  di  sekolah  terdapat  petugas 
    kebersihan, namun program untuk menjaga kebersihan kamar kecil menjadi 
    tanggung jawab warga sekolah, khususnya para siswa. 
 
Program Kegiatan 
     Beberapa     program      kegiatan     yang     dapat    dilakukan     sekolah     bagi 
pengembangan suasana sekolah kondusif antara lain: 
1)  Menata  lingkungan  sekolah  secara  teratur,  antara  lain  taman  dan  kebun 
    sekolah, halaman bermain, tempat duduk untuk beristirahat, tanaman dan 
    pepohonan lainnya, serta bangunan fisik lainnya. Program ini bisa dilakukan 
    dengan  memberikan  tanggung  jawab  pemeliharaan  lingkungan  kepada 
    siswa secara berkelompok yang diatur secara bergantian. 
2)  Melaksanakan  kebiasaan  bersikap  dan  berperilaku  sesuai  dengan  tuntunan 
    akhlaqul  karimah  yang  dicontohkan  Rasulullah  saw,  seperti  mengucapkan 
    dan  atau  menjawab  salam  kepada  sesama  teman  di  sekolah,  berdoa 
    sebelum  memulai  pelajaran,  mendoakan  teman  atau  anggota  keluarganya 
    yang sakit, atau yang sedang ditimpa musibah, bersikap santun dan rendah 
    hati,  saling  menghormati  dan  menolong  antar  sesama,  dan  semacamnya. 
    Upaya  pembiasaan  ini  harus  dilakukan  setiap  hari,  sejak  siswa  masuk  di 
    kelas satu, sehingg akhlak yang luhur ini menjadi budaya pergaulan siswa di 
    sekolah. 
3)  Melaksanakan       shalat    dhuhur     berjamaah      dan    shalat    juamat     untuk 
    meningkatkan  disiplin  ibadah  dan  memperdalam  rasa  kebersamaan  dan 
    persaudaraan  antar  sesama  muslim.  Dalam  kegiatan  ini,  murid  secara 
    bergantian  menjadi  imam,  muadz-dzin,  khatib,  dan  penceramah.  Sesudah 
    shalat  dhuhur  diupayakan  diadakan  kuliah  tujuh  menit  (kultum)  untuk 
    melatih  siswa  mengemukakan  pokok-pokok  pikirannya  tentang  nilai  dan 
    norma  agama  islam  yang  menjadi  anutan  dan  bimbingan  perilaku  setiap 
    hari. 
4)  Mengumpulkan  zakat,  infaq  dan  shadaqah  (ZIS),  mengumpulkan  pakaian 
    bekas  seragam  sekolah atau  pakaian  bekas  lainnya,  mengumpulkan  buku-
    buku  bekas  yang  tidak  terpakai  untuk diberikan kepada  fakir  miskin,  anak 
    yatim  piatu,  dan  orang  lain  yang  membutuhkan.  Kegiatan  ini  bermanfaat 
    untuk membina sikap dan rasa peduli antar sesama yang secara ekonomis 
    kurang beruntung.  
5)  Melaksanakan pesantren ramadhan  dan pesantren  kilat untuk  memberikan 
    tambahan  pengetahuan  dan  pemahaman  tentang  nilai  dan  norma  islam 

    yang dilaksanakan pada bulan ramadhan dan liburan panjang. Program ini 
    akan   mencapai   keberhasilan   apabila  disiapkan  secara   matang  dengan 
    mendayagunakan   semua   sumber   daya   yang   tersedia   di   sekolah   dan 
    lingkungan sekitar. 
6)  Melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam untuk meningkatkan dakwah 
    dan  wawasan  siswa  tentang  sejarah,  nilai,  dan  norma  agama  Islam  yang 
    berkembang di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Kegiatan 
    ini  sebaiknya  dilakukan  dengan  mengadakan  kerjasama  dengan  lembaga-
    lembaga  Islam  yang  berada  di  sekitar  sekolah,  seperti  mesjid,  pondok 
    pesantren, pusat-pusat studi Islam, dan semacamnya. 
7)  Melaksanakan  lomba  karya  tulis  ilmiah  di  lingkungan  sekolah  atau  antar 
    sekolah tentang pentingnya imtaq dan iptek untuk memberikan kesempatan 
    kepada   siswa   untuk   berpikir,   berpersepsi,   dan   memberikan   gagasan-
    gagasan  baru  tentang  pentingnya  aspek  keagamaan  dalam  pembangunan 
    bangsa di abad informasi ini. 
8)  Melakukan  kunjungan  ke  tempat-tempat  studi  dan  peninggalan  agama 
    Islam, seperti Islamic Center, mesjid-mesjid besar, pondok pesantren, dan 
    pusat-pusat  peninggalan  syi’ar  Islam  di  masa  silam,  untuk  memberikan 
    nuansa  dan  gambaran  perjuangan  umat  Islam  dalam  menegakkan  agama 
    Allah.   Dalam     kegiatan     ini  siswa    diminta    untuk     menuliskan      semua 
    pengalaman yang mereka temui di lapangan, baik berupa hasil pengamatan, 
    wawancara, ceramah, diskusi, dan semacamnya. 
9)  Membina       guru    dan    tenaga     kependidikan      lainnya    tentang    program 
    pengembangan  keimanan  dan  ketaqwaan  oleh  kepala  sekolah  dan  atau 
    pengawas. 
10) Mengundang nara sumber, tokoh agama, intelektual islam, dan tokoh-tokoh  
    lainnya   untuk   memberikan   materi   keimanan   ketaqwaan   serta   materi 
    keilmuan   lainnya   yang   dapat   memberikan   wawasan   keagamaan   dan 
    keilmuan kepada siswa dan kepada warga sekolah pada umumnya. 
    Semua  program  kegiatan  hendaknya  menjadikan  siswa  sebagai  pusat  dan 
pemeran   utama.   Untuk   itu   diupayakan   agar   kegiatan-kegiatan   tersebut 
diorganisir oleh siswa dengan bimbingan kepala sekolah, GAI, dan guru lainnya. 
Dengan  demikian  siswa  akan  mendapatkan  pengalaman  langsung  tentang 
kegiatan yang mereka organisasikan sendiri, sehingga kegiatan tersebut melatih 
mereka  untuk  lebih  memahami,  menghayati,  dan  bertanggung jawab  tentang 
apa yang mereka lakukan. 
 
 
KERJA SAMA SEKOLAH DENGAN ORANG TUA MURID 
 
Rumah tangga (di situ ada orang tua murid) adalah tempat pendidikan pertama 
dan   utama.   Pertama   karena   di   situlah   murid   itu   mula-mula   mendapat 
pendidikan;  utama  karena  pengaruh  pendidikan  di  rumah  tangga  itu  sangat 
besar dalam terbentuknya kepribadian. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya 

sekolah  bekerjasama  dengan  rumah  tangga,  maksudnya  bekerjasama  dengan 
orang tua murid.  
     Pentingnya  sekolah  bekerjasama  dengan  rumah  tangga  sudah  sejak  lama 
diteorikan.  Sekarang  ini  semua  guru  menganggap  perlu  adanya  kerjasama 
dengan orang tua murid. Guru Matematika perlu kerjasama dengan orang tua 
murid, sekurang-kurangnya agar orang tua murid mengingatkan agar anaknya 
tidak lupa mengerjakan PR. Guru mata pelajaran lain demikian juga. Nah, agar 
pendidikan  keimanan  dan  ketakwaan    berhasil;    kerjasama  sekolah  dengan 
orang tua murid sangat perlu. 
     Pada  bagian  terdahulu  sudah  dijelaskan  bahwa  bagian  terbesar  tujuan 
pendidikan agama adalah keberagamaan murid, artinya berhasil atau tidaknya 
pendidikan agama  itu ditandai oleh diamalkannya ajaran agama itu sehari-hari 
oleh murid. Nah, orang tua di rumahlah yang paling  mengetahui pengamalan 
itu  oleh  anaknya.  Orang  tua  melihat  anaknya  mengamalkan  ajaran  agama. 
Lebih    dari   itu,   metode     peneladanan       sebagai    metode      unggulan     untuk 
meningkatkan  keberagamaan  murid,  sangat  mengandalkan  peneladanan  oleh 
orang     tuanya     di   rumah.     Orang     tuanyalah     yang     paling   tepat    untuk 
meneladankan  shalat tepat  waktu,  meneladankan  kesabaran, pemurah,  orang 
tuanyalah  yang  paling  tepat  meneladankan  bagaimana  menghormat  tamu, 
bertetangga,  dan  lain-lain  bentuk  pengamalan  ajaran  Islam  sebagai  taneda 
keberagamaan. 
     Pembiasaan  adalah  metode  unggulan  yang  lain  dalam  mengembangkan 
keberagamaan murid. Lagi-lagi, orang tua di rumahlah yang paling cocok untuk 
membiasakan tersebut, yaitu membiasakan mengamalkan ajaran Islam. Orang 
tuanya  membiasakan  shalat  tepat  waktu,  membaca  basmalah  tatkala  akan 
makan, menjawab salam bila tamu berkunjung ke rumah.  
     Metode  andalan  tersebut  (peneladanan  dan  pembiasaan)  memang  dapat 
juga digunakan di sekolah, dilakukan oleh kepala sekolajh, guru agama, guru 
umum,  dan  aparat  sekolah  laoinnya.  Tetapi,  penerapan  kedua  metode  itu 
sangat terbatas di sekolah karena kehidupan murid itu jauh lebih lama di rumah 
ketimbang  di  sekolah.  Kehidupan  di  rumah  adalah  kehidupan  yang  asli,  yang 
sebenarnya, sementara kehidupan di sekolah kebanyakan artifisial, tidak selalu 
menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Konsekwensi dari konsep-konsep 
ini  antara  lain  ialah  pendidikan  keberagamaan  lebih  berhasil  bila  dilakukan  di 
rumah  ketimbang  di  sekolah.  Keunggulan  pendidikan  agama  di  sekolah  ialah 
dan     hanya      dalam      bidang     menambah         pemahaman;         meningkatakan 
keberagamaan  murid  sebagian  besar  harus  di  lakukan di  rumah.  Inilah  yang 
mendasari  teori  kita  bahwa  untuk  memperoleh  peningkatan  kebertagamaan 
murid adalah sangat perlu adanya kerjasama sekolah dan rumah tangga

0 komentar:

Post a Comment